Apa penyebab sebenarnya penyakit kanker ???

Penyebab kanker merupakan hal yang harus kita waspadai selain menjaga pola hidup yang sehat.  Kanker bisa menyerang siapa saja dan kapan saja oleh karena itu ketahuilah cara terhindar dari penyakit kanker dan cara mengobati kanker.

“Dokter, apa penyebab kanker saya?” Bagi dokter, pertanyaan ini sering membingungkan. Sebagian faktor-faktor risiko populasi sudah diketahui, tetapi menyangkut kasus-kasus spesifik, hanya asumsi yang bisa disampaikan. Meski begitu, para ilmuwan memiliki pemahaman yang semakin luas tentang mekanisme-mekanisme yang mendasari perkembangan tumor. Walaupun sebagiannya masih sangat polemis.

Dengan kata lain, “keberuntungan” banyak kaitannya dengan itu. Dalam sebuah artikel tahun 2015, juga di majalah Science, mereka sudah meneliti frekuensi kanker di jaringan-jaringan berlainan dalam tubuh manusia. Misalnya, risiko seumur hidup kanker paru-paru adalah 6,9%, dibandingkan dengan 1,08% risiko kanker tiroid, bahkan lebih kecil lagi risiko untuk kanker otak dan kanker-kanker lainnya.

Tingkat pembaruan jaringan terkait dengan risiko kanker lebih tinggi

Penelitian mereka tentang dugaan adanya kaitan antara jumlah pembelahan sel induk dalam jaringan tertentu sepanjang hidup dan risiko kanker di area itu memperlihatkan suatu korelasi kuat. Semakin tinggi tingkat pembaruan sel induk, semakin tinggi risiko kanker di jaringan itu. Hasil permulaan ini, berdasarkan data dari populasi Amerika, didukung oleh studi kedua yang diterbitkan pada Maret tahun ini, yang mendapati korelasi rata-rata yang sama di 69 negara.

Kedua peneliti itu kemudian mulai mengisolasi efek-efek mutasi spontan dari faktor-faktor risiko lain, yang bersifat turunan maupun lingkungan. Mereka menunjukkan bahwa mayoritas kanker disebabkan oleh “nasib buruk”—dengan kata lain, oleh mutasi spontan yang acak. “Keberuntungan” bahkan memainkan peran signifikan pada kanker di mana sebab-sebab lingkungan sudah begitu diyakini, seperti sebab-sebab yang dikaitkan dengan merokok.

Baca juga:  Penyebab Menstruasi Lama dan Cara Mengobatinya

Hasil-hasil penelitian itu menimbulkan kontroversi cukup sengit karena dianggap bisa mendorong kita untuk meyakini bahwa menganjurkan warga untuk berperilaku sehat—seperti berhenti merokok dan makan banyak sayur dan buah—tidak sepenting yang kita pikir selama ini. Data kedua peneliti itu bahkan dikaji oleh sebuah tim terpisah, yang mendapati keberuntungan sama sekali tidak memainkan peran sepenting itu.

Efek stres oksidatif pada DNA

Perlu diketahui bahwa literatur ilmiah dalam mikrobiologi, secara langsung terkait dengan penelitian kanker atau tidak, menawarkan banyak sekali artikel tentang  mutasi dan kerusakan DNA. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 2000, ilmuwan Amerika Lawrence Marnett menganalisis efek stres oksidatif (serangan-serangan pada sel-sel kita oleh spesies oksigen reaktif, atau “radikal bebas”) dan mendapati efek-efek tersebut jauh lebih signifikan dari yang terkait dengan zat-zat karsinogenik. Dan, stres oksidatif bukanlah satu-satunya penyebab kerusakan DNA, sebagaimana bisa dilihat dalam ringkasan tahun 2004 Roel De Bont dan Nicolas Van Larebeke.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan awal tahun ini, Anthony Tubbs dan Andre Nussenzweig menekankan bahwa setiap DNA sel manusia mengalami sekitar 70.000 luka per hari. Kita tidak akan hidup lama jika tubuh tidak memiliki cara mengoreksi kesalahan-kesalahan itu, apalagi jika semua kesalahan itu mendorong kita mengembangkan tumor. Penting untuk diingat bahwa tumor hanya muncul setelah beberapa mekanisme kontrol menemui kegagalan.

Mula-mula, proses perbaikan normal DNA sel yang rusak pasti gagal. Kemudian, sel itu pasti bisa bereproduksi dalam cara serampangan, artinya problem itu pada prinsipnya pasti mempengaruhi gen-gen yang bertanggung jawab atas duplikasi sel, atau yang mengatur duplikasi itu. Sel-sel yang rusak juga harus lolos dari penghancuran diri yang diprogram secara alami dikenal sebagai apoptosis) dan kewaspadaan sistem kekebalan tubuh, yang tugasnya adalah melenyapkan unsur-unsur asing dan unsur-unsur disfungional lainnya.

Baca juga:  Perbedaan Pendarahan Menstruasi dengan Penyebab Lainnya

Kontak sel dengan mutagen eksternal atau internal dengan demikian hanyalah satu langkah dalam rangkaian panjang kegagalan yang mesti terjadi sebelum sebuah tumor bisa berkembang.

Peran stres

Pada tahap pembahasan tentang peran “nasib buruk” dalam kemunculan kanker ini, layak kiranya memperhatikan peran khusus yang dimainkan oleh stres individual, pokok bahasan karya saya Stress and Cancer: When Our Attachment Plays Tricks on Us (De Boeck). Setiap langkah menuju sel yang menjadi kanker bersifat sensitif terhadap stres dan hormon-hormon stres. Oleh karena itulah stres psikologis kronis, yang saat ini terutama disebabkan oleh stres psikologis, bisa dianggap sebagai penyebab langsung kanker. Perlu saya tambahkan, bagaimanapun juga, masih ada perbedaan pendapat terbuka mengenai masalah ini.

Stres psikologis kronis pada kenyataannya memang mempercepat reproduksi sel, termasuk pemendekan telomer, “kap” yang melindungi kromosom kita dari aus. Fenomena ini diungkap oleh penelitian Elizabeth Blackburn, yang meraih hadiah Nobel Kedokteran karena menemukan telomerase. Semakin banyak sel-sel yang terdiferensiasi ini berlipat ganda, semakin tinggi risiko mutasi acak DNA mereka. Selain itu, semakin banyak sel-sel yang terdiferensiasi menjadi tua dan mati, semakin banyak sel-sel induk membelah untuk membuat sel-sel baru, mempertinggi risiko perkembangan kanker.

Tetapi itu belum semua. Melalui proses neuroendokrin, stres psikologis juga mempengaruhi metabolisme oksidatif, perbaikan DNA, ekspresi onkogen dan faktor pertumbuhan produksi. Ini menimbulkan problem-problem umum yang terkait dengan radang kronis dan hilangnya fungsi kekebalan efektif, seperti yang bisa dilihat dalam kajian-kajian yang dikutip dalam buku saya.

Kontroversi “nasib buruk” yang mengitari penelitian Tomasetti dan Vogelstein menyediakan bahan pemikiran baru. Mereka menunjukkan bahwa, menurut organisasi Cancer Research UK, 42% kanker bisa dihindari dengan mengubah lingkungan dan gaya hidup. Di Prancis, institut kanker nasional melaporkan rasio yang sama untuk kanker yang bisa dicegah. Angka ini tinggi dan tidak serendah yang diharapkan. Apakah ini artinya tidak ada apa pun yang bisa dilakukan dengan sekitar 60% kasus lainnya?

Baca juga:  Obat Penebalan Dinding Rahim Tradisional

Yang jelas, Tomasetti dan Vogelstein mengemukakan cara mengobati kanker ”. Mereka menyarankan, antara lain, penggunaan antioksidan dalam pencegahan kanker. Mengingat proses berbahaya yang dijalankan oleh stres sebagai penyebab kanker, melindungi kesehatan psikologis seseorang juga merupakan sebuah senjata efektif sebagai cara terhindar dari penyakit kanker 

 

Baca juga 😛atah tulang pada pergelangan tangan

Speak Your Mind

*